Yuk ke Pantai Belitung…

Inget kan salah satu adegan film Laskar Pelangi dimana segerombolan anak kecil berlarian di pantai berpasir putih, dengan air berwarna hijau – biru, dan bertaburan batu-batu besar..Pantai nan indah itu bernama Pantai Tanjung Tinggi, yang merupakan pantai pasir putih kebanggaan Pulau Belitung. Saya rasa tak ada yang menolak, jika diajak berwisata, berlibur, melepaskan penat ke arah Pulau Sumatera, tepatnya ke Pulau Belitung.

Belitung, atau Belitong (bahasa setempat, diambil dari nama sejenis siput laut), dulunya dikenal sebagai Billiton adalah sebuah pulau di lepas pantai timur Sumatra, Indonesia, diapit oleh Selat Gaspar dan Selat Karimata. Pulau Belitung terbagi menjadi 2 (dua)  kabupaten yaitu Kabupaten Belitung, beribukota di Tanjung Pandan, dan Belitung Timur, beribukota Manggar. (sumber wikipedia indonesia).

Dengan rencana yang matang dari hasil kerja keras kawan2 saya, liburan ke Belitung dengan tiket pesawat murah, tour travel murah dan hotel yang mewah murah akhirnya terlaksana *hahahaha.. untuk kelas disana saya rasa itu termasuk hotel mewah yang murah*

Hari Pertama. Perjalanan dengan pesawat dari jakarta menuju bandara tanjung pandan memakan waktu 1 jam, waktu yang tidak begitu lama..*sama lah dari jakarta ke jogja..* Tiba dibandara kami dijemput dan diantar ke  hotel oleh mas2 tour travel yang telah setia menunggu lama karena pesawat kami delay beberapa jam.

Siang menjelang sore itu kami diantar menuju pantai tanjung tinggi, pantai yang terkenal dengan pasir putih, bebatuan besar dan lokasi film laskar pelangi. Makan siang dengan seafood, bermain dipinggir pantai yang bersih berwarna hijau dengan batu2 yang besar serta mengabadikan momen dengan kamera ternyata masih kurang. Karena pada saat itu awan mendung menutupi momen terbenamnya matahari.

Di Hari kedua, seharian kami berpanas-panasan ria, mengunjungi pulau yang satu ke pulau lainnya dengan menggunakan perahu motor dab bersnorkeling. Pulau yang pertama kali kami singgahi adalah Pulau Lengkuas. Pulau Lengkuas adalah pulau kecil, terletak di arah Utara desa Tanjung Binga. Luas totalnya kurang dari satu hektar. Di Pulau ini terdapat mercusuar tua yang terdiri dari 18 lantai tersebut merupakan bangunan peninggalan Belanda pada tahun 1882.Walau terlihat tua dan banyak besi2 yang telah berkarat, mercusuar tersebut ternyata masih dapat dioperasikan. Siapa yang berani dan kuat menuju puncak mercusuar tidak akan menyesal, karena pemandangan dari atas sangat indah *dijamin ga akan mau turun lagi deeh..xiixixi*.  Pulau yang lainnya hanyalah pulau-pulau kecil dengan pasir putih, air bersih dengan bebatuan dan tanpa penghuni. Bermain pasir, air, jalan ke tengah laut dan berfoto-foto ria menjadi kegiatan utama saat itu.. *serasa pemilik pulau sendiri, xixixi*. Oia.. ada salah satu Pulau, namun saya rasa tidak bisa disebut pulau karena hanyalah gundukan pasir seluas 20 meter persegi. Tapi rugi jika tak bersinggah ke sana, selain unik ternyata disekitarnya kita dapat menemukan teman dari patrick, alias bintang laut.

Hari Ketiga aka hari terakhir, Setelah sarapan pagi dan check out, kira-kira jam 7 pagi kami langsung menuju Belitung Timur. Belitung Timur merupakan salah satu Kabupaten di Belitung selain Tanjung Pandan. Kabupaten ini merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Belitung dan beribukota Manggar. Kabupaten Belitung Timur pernah menjadi lokasi pertambangan timah sejak masa kolonial Belanda hingga masa Orde Baru. Semenjak kemerdekaan, usaha pertambangan dijalankan oleh PN Timah. (sumber wikipedia indonesia)

Perjalanan kami ke Belitung Timur yang cukup lama ternyata mengunjungi replika sekolah Laskar Pelangi. Replika sekolah tersebut hanya terdiri dari dua kelas dengan dinding dari bilik bambu dan terdapat beberapa meja, kursi, papan tulis dan lemari. Nostalgia menjadi anak SD mungkin disini tempatnya. hehehe..

Selain ke Replika sekolah Laskar Pelangi, kami menuju Vihara Buddhayana. Vihara yang dibangun pada tahun 1736 ini dikenal dengan klenteng Wan Jie Si atau Klenteng Sentiong dikenal pula dengan sebutan Rumah Gunung Sahari. *aliasnya banyak juga ya booo..*Eia Fren.. ternyata disini kita bisa minta diramal lho.. tulisannya boleh dibawa pulang juga kok..  mau coba ga??

Dari Vihara kami beralih ke Ibukota Belitung Timur, Manggar untuk menikmati kopi. Menurut sang tour guide kami kebiasaan minum kopi sudah begitu melekat di masyarakat Manggar. Penyajian kopi di Belitung memiliki cara yang khas dan cukup unik. Sebelum dituang, bubuk kopi diseduh dengan air panas dalam sebuah wadah besar (biasanya terbuat dari logam atau semacam aluminium), untuk disajikan ke dalam gelas, kopi disaring menggunakan saringan berbentuk seperti kaus kaki. Sehingga kopi yang didapat terbebas dari ampas. *ajiiib banget kan brooo…*

Bagi yang tidak suka menikmati kopi, warung kopi di kota Manggar ini juga menyediakan teh atau cokelat panas yang mungkin tak kalah nikmatnya.

Setelah menikmati kopi di kota Manggar, kami langsung beralih kembali ke Tanjung Pandan menuju bandara.

Melihat waktu menunjukkan jadwal makan siang dan didukung oleh perut yang bernyanyi kelaparan, akhirnya kami mampir ke mie atep belitung, mie yang aneh tapi enak, sekilas terlihat seperti pempek yang terdapat mie diberi kuah.. namun ini tanpa pempek.. hohoho.. saya pun sulit menceritakannya 😛 .

Setelah mencoba mie atep, ternyata perut kami kangen dengan rasa ayam dan nasi dari restoran cepat saji yang menjamur di jakarta, apalagi kalau bukan Ka eF Ci.. *hahahah, jauh2 ke belitung.. cuma makan KaeFCih* Eia, disini cuma ada satu lho..satu2nya di belitung..

Oke,, Mie atep, nasi, ayam siap saji sudah ada diperut,, ternyata jadwal penerbangan masih agak lama.. so, kami mampir ke tempat pengrajin batu satam. Billionite atau Batu SATAM adalah sejenis batu yang bisa di temukan di pulau Belitung, batu tersebut hanya bisa ditemukan secara kebetulan ketika para penambang timah sedang menggali bijih timah dilokasi pertambangan darat di pulau Belitung. Di kalangan masyarakat Belitung sendiri, batu satam ini dipercaya mempunyai kekuatan magis sebagai penangkal penolak racun dan unsur makhluk-gaib. Namun bagi wisatawan yang berkunjung ke Pulau Timah ini, selalu menyempatkan diri membeli batu satam ini sebagai cendramata khas Pulau Belitung, yang dijadikan kalung, giwang, bros, cincin, tasbih, tongkat komando dan sebagainya, yang dikenal dengan istilah Kerajinan Satam. Salah seorang perajinan batu satam itu adalah Firman Zulkarnain, yang biasa dipanggil Firman Satam. Pria kelahiran Pulau Belitung yang tinggal di Desa Pangkalalang Tanjungpandan ini, telah menekuni usaha kerajinan batu satam selama 19 tahun.

Setelah mendapat cerita asal usul,  khasiat dari batu satam serta berfoto ria dengan si bapak pengrajin batu satam itu, akhirnya kami tiba di Bandara H. A. S. Hanandjoeddin dan bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta.

Hufft.. lumayan padat merayap ya jadwalnya.. yang jelas ke Pantai Belitung itu ga rugi..

hehehe..  siapa ya belum kesana???

Advertisements

6 thoughts on “Yuk ke Pantai Belitung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s