Naiia..

Kau bilang namamu NAMIRA LIYANARAHIM.
Nama yang sangat indah yang diberikan oleh Mama dan Papamu.

Naiia.. “i” dengan tasydid..
kau sebut itu sebagai panggilanmu.

Terbayang olehku seorang gadis cantik,manis, imut dan sholihah…

Namun sayang..
Ku tak pernah tau siapa dirimu dan
Secantik apa dirimu..

Hanya kata terimakasih yang dapat ku berikan,
atas ucapan SELAMAT ULANG TAHUN.
ucapan dari seorang “fans terselubung”
seperti yang kau aku padaku saat itu..
saat ku tanya siapakah dirimu.

Terimakasih NAIIA,,
Terimakasih ucapan SELAMAT ULANG TAHUN,nya.
Terimakasih telah menjadi “Fans terselubung”ku.

 

Yuk ke Pantai Belitung…

Inget kan salah satu adegan film Laskar Pelangi dimana segerombolan anak kecil berlarian di pantai berpasir putih, dengan air berwarna hijau – biru, dan bertaburan batu-batu besar..Pantai nan indah itu bernama Pantai Tanjung Tinggi, yang merupakan pantai pasir putih kebanggaan Pulau Belitung. Saya rasa tak ada yang menolak, jika diajak berwisata, berlibur, melepaskan penat ke arah Pulau Sumatera, tepatnya ke Pulau Belitung.

Belitung, atau Belitong (bahasa setempat, diambil dari nama sejenis siput laut), dulunya dikenal sebagai Billiton adalah sebuah pulau di lepas pantai timur Sumatra, Indonesia, diapit oleh Selat Gaspar dan Selat Karimata. Pulau Belitung terbagi menjadi 2 (dua)  kabupaten yaitu Kabupaten Belitung, beribukota di Tanjung Pandan, dan Belitung Timur, beribukota Manggar. (sumber wikipedia indonesia). Continue reading

Cinta Laki-laki Biasa

– Karya Asma Nadia dari kumpulan cerpen Cinta Laki-laki Biasa –


Menjelang  hari  H,  Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu.
Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang  dilalui,  gadis cantik itu sadar,
keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang;
Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania.
Mereka ternyata sama herannya. “Kenapa?” tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat  itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu.
Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
Tiba-tiba  saja  pipi  Nania  bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt.
Hatinya  sibuk  merangkai  kata-kata yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas.
Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana.
Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata.

Continue reading